PRM meninggalkan Kampanye dengan Alasan Ketidakhadiran Paslon Lawan. Alasannya Dianggap Mengada-ada.*
Yogyakarta – Minggatnya simpatisan dan anggota PRM (Partai Rakyat Merdeka) sebelum acara Kampanye Monologis Pemilwa FUPI selesai, mendapat respon negatif dari berbagai pihak. Termasuk dari anggota dan simpatisan partai lain. Sikap ini dinilai tidak menghargai jalannya forum kampanye dan tidak menunjukkan sikap intelektual yang seharusnya menjadi karakteristik seorang mahasiswa.
DPW PRM menanggapi pandangan negatif atas sikap yang mereka tunjukkan. Dilansir dari geger.id, Ketua PRM mengatakan “Dalam undang-undang pemilwa yang diatur oleh Senat Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, tidak ada aturan yang secara tegas menyatakan jika peserta kampanye wajib mengikuti acara tersebut sampai selesai. Jadi, apa yang dilakukan oleh PRM itu tidak menyalahi hukum,” pada Selasa (20/12).
Kemudian ia juga berdalih bahwa penarikan massa ini dilakukan sebagai respon ketidakhadiran salah seorang calon wakil ketua HMPS Sosiologi Agama dari Partai Pencerahan. “Jika PRM dianggap tidak menghargai lawan, justru harus ditanyakan balik ke simpatisan partai sebelah itu. Jika Partai Pencerahan memang berniat dan serius dengan pemilwa, seharusnya paslon yang diangkat bisa mengikuti acara kampanye monologis. Bukan malah tidak bisa hadir dengan alasan kerjalah, atau ada acara keluarga lah,” ujarnya, sebagaimana dimuat dalam geger.id.
Pernyataan ini kemudian direspon oleh berbagai pihak yang menganggap bahwa alasannya ini terlalu mengada-ada. Menurut, salah seorang mahasiswa yang mengikuti alur Pemilwa ini mengatakan “Tidak semua harus diatur dalam undang-undang. Sikap dan penghargaan kita kepada orang lain adalah tuntunan moral dari diri sendiri. Tidak pantas kalau seorang mahasiswa apalagi yang ngomong demokrasi, berlaku seperti itu”.
Terkait permasalahan absennya salah seorang calon dari Partai Pencerahan, ia menyatakan bahwa tidak hanya Partai Pencerahan yang hadir untuk mengikuti kampanye. Namun ada partai lain yaitu PAD (Partai Aliansi Demokrat) yang ikut mengusung calon. Jika alasannya adalah bahwa salah seorang calon Partai Pencerahan tidak hadir, seharusnya mereka menghargai PAD yang datang dengan dengan paslon lengkap. Ia menganggap bahwa alasan yang disampaikan oleh Abdullah Adhim terlalu mengada-ada dan cenderung ingin mencari-cari kesalahan partai lain.
PRM menyatakan bahwa ketika melihat salah seorang calon dari partai pencerahan tidak hadir mereka langsung menarik massanya. Nyatanya, titik awal minggatnya para anggota dan simpatisan partai tersebut adalah sejak seluruh calon yang mereka usung menyelesaikan kampanye. Dengan kata lain, mereka tidak menunggu calon dari partai lain untuk berkampanye, namun langsung meninggalkan tempat.