Mempertanyakan Kebekuan HMPS AFI

27 Februari telah digelar pelantikan dan serah terima jabatan DEMA FUPI. Ini menandai kemunculan wajah baru bagi birokrasi Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam. Namun, apakah wajah baru itu membawa semangat dan visi yang baru pula? Ini masih menjadi pertanyaan besar. Untuk itu, di sini saya hanya ingin menggarisbawahi salah satu HMPS di bawah naungan FUPI, yakni HMPS AFI.

Pelantikan Dema Fupi
source: IG DEMA FUPI
 
Hingga hari ini periode jabatan HMPS AFI sudah terhitung kurang lebih 1,5 bulan. Tentunya itu terbilang waktu yang panjang bagi jabatan yang periodenya hanya 1 tahun. Namun, sampai hari ini kita masih belum melihat adanya ide atau wacana baru yang muncul untuk membangun progresivitas dan intelektual dalam ranah kampus oleh HMPS AFI.
Sejak dilantiknya para ‘pejabat’ baru tersebut hingga hari ini, belum ada atmosfer baru dalam kampus. Baik dari segi Intektual, progresivitas, dan bahkan relasi antar mahasiswa. Kita kemudian mempertanyakan, apakah yang sebenarnya menjadi tujuan dan corak eksistensi HMPS AFI.

Lucunya, kita selalu saja mendengarkan serangkaian sajak-sajak progresif ketika kampanye pemilu yang dijual untuk mendulang suara elektabilitas. Namun, suara-suara yang menjanjikan itu, kini malah bisu. Kata-kata 'progresif dan intektual’ yang saban hari ditawarkan kini tidak terdengar lagi.

Sangat disayangkan bagaimana HMPS AFI tidak dapat menjadi penghubung antara mahasiswa dan permasalahan sosial yang hari ini sedang gempar-gemparnya seperti pengesahan UU Cipta Kerja, dimana pengesahannya sedang ditentang oleh banyak mahasiswa di kampus-kampus lain.

Selain itu, peningkatan intelektualitas sebagaimana disongsong oleh para calon ketika kampanye tidak menunjukkan perkembangan apa-apa. Sektor-sektor Intektual ini malah diisi oleh komunitas-komunitas yang muncul dari masing-masing angkatan mahasiswa AFI. HMPS AFI seharusnya dapat berkaca kepada komunitas-komunitas studi Filsafat dari kampus-kampus lain dan boleh jadi dapat membangun relasi dengan komunitas-komunitas tersebut.

Terakhir, kita masih belum melihat bagaimana HMPS AFI dapat mengadvokasi permasalahan yang berkembang di ranah kemahasiswaan sendiri. HMPS AFI seharusnya dapat menjadi penghubung aspirasi mahasiswa kepada pihak dosen dan rektorat.

Stay Bold